Apakah arti kesetiaan? - 17 September 2010 - History Education

Peringkat

Powered by MyPagerank.Net

Assalamualaikum

Login (masuk)

Waktu

Kalender

«  September 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

Kolom Chatting

200

Asmaul Husnah

Statistik


Total online: 2
Guests: 2
Users: 0

Polling

Rate my site
Total of answers: 46

Block title

Social Network

MyBlog Log

Tag Cloud

Upload File

Smile

Sponsor

Hot News

Pengunjung

free counters

Pagerank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Block title

My Profile





Thursday, 08 Dec 2016, 6:14 AM
Welcome Guest | RSS
HISTORY EDUCATION
Main | Registration | Login
Main » 2010 » September » 17 » Apakah arti kesetiaan?
11:48 AM
Apakah arti kesetiaan?
Apakah arti kesetiaan? Masihkah kesetiaan memiliki nilai di mata dan hati manusia? Semakin mata ini terbuka terhadap dunia, semakin banyak cerita perselingkuhan yang terlihat. Keraguan akan keberadaan nilai kesetiaan pun semakin tebal. Ditambah lagi setelah menonton Desperate House Wife, ketika Carlos Solis yang begitu mencintai istrinya pada akhirnya tergoda untuk berselingkuh dengan housemaid-nya atau suami Lynette yang sesungguhnya tipe suami close to perfection ternyata menyimpan rahasia dari hubungan masa lalunya. Saya pun memperburuk persepsi saya akan kesetiaan dengan membaca kumpulan cerpen Tamara Geraldine "Kamu Sadar Aku Punya Alasan Untuk Selingkuh,kan Sayang?”, dan mendengar kisah beberapa teman yang berselingkuh ataupun diselingkuhi. Jangan bilang kalau saya terlalu banyak menonton drama dan membaca novel picisan yang didramatisir. Face it, affairs happen around us, really close in d corner.

Saya bukannya berlagak sok suci. Saya bukannya tidak pernah "bersenang-senang” dengan orang lain selain kekasih. Tapi kesemuanya itu tidak pernah berjalan benar-benar "menyenangkan”. Dan tentunya tidak lama. Katakan saja kesenangan 1 hari or whatever. Well, semuanya masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu, baik ataupun buruk. Pengalaman disakiti dan menyakiti menjadikan saya lebih berhati-hati dalam berhubungan. Berhati-hati dalam menjaga hati pasangan dan menjaga hati saya sendiri.
Semakin saya dewasa, semakin saya menyadari bahwa kesempatan untuk berselingkuh selalu ada. Like wise men said, human never satisfied. Dapat nol ingin satu. Dapat satu ingin dua. Dan seterusnya. Meski sebagian berusaha membenarkan,yang pentingkan tidak pakai hati. Toh, yang utama tetap pasangan resmi.” Lagi-lagi pembenaran semu! Jika masih berpacaran mungkin masih bisa ditolerir (mungkin lho!). Ingat, toleransi bukan berarti menjadikan sesuatu yang salah terlihat benar. Toleransi hanyalah perspektif terhadap suatu permasalahan dengan lebih bijak melihat unsur sebab dan akibat. Tapi tetap saja berselingkuh ya berselingkuh, dalam keadaan masih berpacaran, bertunangan ataupun sudah resmi menikah.
Justru tahap inilah yang penting dalam fase interpersonal communication. Tahap dimana kita bisa mengeksplor pasangan sebelum akhirnya memutuskan that he or she is d rite one. Meskipun sebenarnya tidak ada jaminan juga kalau selagi jadi pacar setia, maka dia akan menjadi suami atau istri yang setia juga. Sumpah mati saya jadi semakin takut terlibat dalam relationship!
Tidak ada ego manusia yang rela diduakan! Jika seseorang telah mencinta, tentunya ia ingin menjadi d only one. Siapa yang rela jika harus berbagi? Tidak usah berbagi dengan makhluk bernama rival, berbagi dengan hobi pasangan pun kadang bukan hal yang mudah. Tuhan, masih adakah nilai-nilai kesetiaan di hati manusia? Masih adakah di hatinya?
Tapi perlu ada kesamaan persepi tentang selingkuh. Hubungan seperti apakah yang bisa dibilang selingkuh? Kalau sekedar berjalan berdua sepulang kantor? Atau sekedar merindukan kehadiran sosok lain yang terkadang membuat hari-hari lebih ceria dengan semangat hidupnya? Lupakanlah kontak fisik yang jelas-jelas sudah mengotori nilai-nilai suatu komitmen. Apakah hal-hal kecil itu tanpa disadari merupakan bagian dari affair? Sebut saja saya manusia egois yang hanya menginginkan pasangan saya memikirkan saya seorang, mengingat saya ketika ia dalam senang ataupun susah. Hanya saya! Tidak ada orang lain!
Buat apa mencinta jika pada akhirnya akan berbuah rasa sakit? Siapa yang rela memberikan hati jika pada akhirnya akan hancur berkeping-keping. Semua manusia tentu mengharapkan kebahagiaan. Siapa yang menginginkan merasakan insecure dalam hubungan? Sumpah mati, semakin aku mengenalnya semakin aku takut. Semakin aku mengetahuinya, semakin aku tidak mengenalnya.Apakah saya perlu memilih tidak tahu? Tapi saya tidak ingin menjadi buta dan terlalu naïve dalam berpikir. All I want is feeling secure. Yang kubutuhkan hanya perasaan damai bahwa saya telah mempercayakan hati saya di tangan yang tepat.
Like I said, semakin dewasa saya juga ingin menjalani hubungan dengan lebih dewasa. Relationship that based on trust. Tapi kepercayaan tidak bisa dibentuk semudah membalikkan telapak tangan bukan? Bahkan kadang hal-hal kecil amat sangat berpengaruh dalam membangun rasa percaya. Saya ingin menjalani semuanya sebaik mungkin, dengan cara yang benar. Tidak ingin mengecewakan orang yang saya sayang dan tidak ingin dikecewakan oleh orang yang saya sayang. Maafkan saya jika saya meragukanmu sayang. Sampai kapan saya akan terus meragukan dan tak mempercayaimu? Sungguh, saya sama sekali tidak menikmati perasaan ini. But this feeling is unavoidable. Mungkin saya hanya terlalu menyadari bahwa dibalik kebahagiaan ada kepahitan. Dan jika kita telah siap jatuh cinta, berarti kita juga harus siap sakit hati. Damn! Kenapa sesuatu yang begitu indah harus disandingkan dengan kebusukan?!
Maafkan saya jika saya akhirnya hanya bisa memberikan 70% rasa percaya saya, sayang. Biarkan saya menyisakan 30% for my heart insurance. Bukan! Sisa 30% itu bukan untuk selalu meragukanmu. But you’re just so unpredictable and my heart is to fragile. Though I love you so much…

http://ariesgoblog.wordpress.com/2010/02/04/kesetiaan-hati/
Views: 705 | Added by: aries | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:

Copyright Aries Eka Prasetya © 2016